Catching Fire

Senin, 28 Januari 2013

Sejarah The Jack Vs Viking

Di era teknologi informasi dan semua orang
begitu mudah mendapatkan informasi utamanya melalui media-media sosial dan
media online, karena diterima secara masiv dan cepat, maka seringkali hal-hal yang
sesungguhnya keliru menjadi dianggap benar
dan semakin disebarluaskan. Maka sebelum
membahas perseteruan antara kedua kelompok
suporter, ada baiknya kita meluruskan persepsi
yang belakangan semakin keliru dan
mengganggu.
Pertama adalah kekeliruan mengenai sejarah
klub itu sendiri, banyak media baru yang
menganggap dan meyakinkan banyak orang
bahwa PERSIB vs Persija adalah laga klasik,
bergengsi yang sejak dulu tak hanya seru
didalam lapang namun juga luar lapang dan
melibatkan banyak hal termasuk perseteruan
suporter semenjak jaman
perserikatan. Kenyataannya adalah: duel klasik
yang melibatkan massa besar dan suporter
fanatik serta layak disebut musuh bebuyutan
bagi PERSIB diera perserikatan adalah laga-laga
menghadapi duo ayam, yaitu Ayam Kinantan
(PSMS Medan) dan Ayam Jantan Dari Timur
(PSM Makasar)+bolehlah kita masukkan juga
Persebaya Surabaya sebagai seteru.
Ya!, Bandung, Medan, Surabaya, dan Makasar
adalah 4 kota yang dapat kita katakan memiliki
tradisi sepakbola yang mengakar, maka tak
heran suporter sepakbola ini mencakup 3
generasi (Kakek, Ayah , Anak), ini berbeda
dengan kota-kota lain yang memiliki suporter
yang identik dengan kelompok suporter
(biasanya memiliki embel-embel mania
dibelakangnya), bisa dipastikan eksistensi
suporter jenis ini adalah trend yang menjamur
diera pasca kompetisi perserikatan, termasuk
Jakmania. Sehingga adalah kekeliruan besar bagi
mereka yang mengatakan laga Persija vs PERSIB
adalah laga klasik yang melibatkan suporter
kedua tim selama puluhan tahun, dan lebih
gilanya lagi ada juga media yang menyesatkan
umat dengan mengatakan bahwa kandang
Persija diera perserikatan adalah stadion
Senayan, padahal kandang Persija diera
perserikatan adalah stadion menteng yang
sekarang telah digusur.
Jika dikatakan bahwa Persija Jakarta pernah
menjadi tim bagus diera perserikatan, ya itu
betul karena mereka memang memiliki masa-
masa itu tapi tetap harus diingat bahwa prestasi
bagus Persija dimasa lalu tidak berbanding lurus
dengan jumlah massa pendukung mereka,
sebelum lahirnya Jakmania penonton laga
Persija hanyalah simpatisan-simpatisan dan
keluarga pengurus yang jumlahnya tentu tidak
seberapa.
Perlu diketahui juga oleh para bobotoh muda
bahwa jika membicarakan tim Jakarta yang layak
diperhitungkan saat kita berbicara era awal liga
Indonesia maka tim itu adalah tim Pelita Jaya
Jakarta, mereka memiliki kelompok pendukung
bernama the Commandos yang identik dengan
anak-anak kaya, cewek-cewek cantik, yang tentu
saja jumlahnya sangat-sangat sedikit, bahkan
stadion mini mereka yaitu stadion lebak bulus
pun tak pernah penuh jika Pelita Jaya bermain.
Kembali ke Persija, diawal era liga Indonesia
(sekitar tahun 1994-1995), Persija dapat
dikatakan tim yang tak diperhitungkan, minim
dana, pemain-pemain gurem, stadion menteng
yang kurang perawatan dan selalu sepi, dan satu
hal yang perlu diingat bahwa warna tim Persija
adalah merah bukan oranye seperti sekarang.
Semua berubah sekitar tahun 1997, adalah
seorang gugun gondrong pelaku utamanya,
dalam sebuah memoar yang saya ingat dia
pernah mengatakan cukup gerah dengan ke
Jakartaan kota Jakarta yang semakin tersingkir
oleh pendatang, salah satu parameternya dari
kehadiran penonton sepakbola saat Persija
bermain.
Jika Persija menjamu PSMS yang menuhin
stadion menteng pastilah orang batak, jika
menjamu PSIS atau persebaya pastilah orang
jawa yang mendominasi, begitupun saat
meladeni PERSIB, pastilah urang sunda yang
menyesaki menteng. Intinya disanalah gugun
mulai menyentuh sisi emosional orang-orang
yang sehari-hari hidup di Jakarta bahwa saatnya
menanggalkan klub daerah masing-masing dan
mendukung tim dimana mereka beraktivitas
yaitu Persija. Dan tentu saja bukanlah hal mudah
untuk menyentuh sisi emosional ini, apalagi
memaksa seseorang untuk mendukung salah
satu tim sepakbola. Hal ini perlu dirangsang dan
bersambutlah seorang Sutiyoso yang
membutuhkan “kelompok sayap” untuk
menopang kekuatan politisnya, 2 yang paling
menonjol menurut saya adalah upaya sutiyoso
untuk menggandeng Jakmania dan FBR, saya tak
taulah tentang FBR, namun untuk Jakmania saya
tahu bahwa mereka dirangsang dengan tiket-
tiket gratis bahkan disediakan hingga tingkat
kelurahan, dan upaya rekayasa membangun
fanatisme ini diupayakan juga dengan angkutan-
angkutan umum gratis seperti metromini yang
menjemput dan mengangkut mereka ke
stadion. Sungguh berbeda bukan dengan
fanatisme alami ala bobotoh yang harus
mencari setengah mati tiket-tiket berharga
mahal dan susah payah mencapai lokasi
pertandingan.
Pasca sentuhan Sutiyoso inilah Persija dan
suporternya bertransformasi memasuki era baru
yang membuat mereka diperhitungkan.
Berbicara mengenai pembangunan suporter,
Jakmania pun tentunya memerlukan rujukan dan konon kota Bandunglah yang mereka jadikan rujukan, maka tak perlu heran jika
pengurus-pengurus Jakmania pada awalnya
justru sering berkunjung ke bilangan gurame di
kota Bandung untuk “belajar”, tepatnya di
markas salah satu kelompok bobotoh yaitu
Viking. Maka tak perlu heran jika pada awalnya
pengurus kedua kelompok suporter ini
sebenarnya saling mengenal dan jauh dari
bayangan keadaan saat ini. Lebih jauhnya saya
tak ingin terlalu banyak menulis mengenai ini
karena saya hanya mendengar sepotong-
sepotong saja dan khawatir itu pun tidak valid
seutuhnya. Oleh karena itu saya ingin langsung
beranjak kepada salah satu momentum yang
saya alami sendiri yaitu bentrokan pertama
suporter PERSIB dengan Jakmania, saya sengaja
mengatakan “suporter PERSIB”, dan bukannya
menyebut Viking ataupun bobotoh karena
konon yang terlibat dalam bentrokan ini
bukanlah anak-anak Viking tapi menyebut
bobotoh pun tak elok karena dapat menyeret
dan menggeneralisir.
Gesekan pertama
Gesekan pertama terjadi sekitar tahun 1999 di
Siliwangi Bandung, saat itu Persija yang disuntik
dana besar oleh Sutiyoso hadir dengan materi-
materi terbaik dimasanya seperti Luciano
Leandro, Dedi Umarella dll, sedangkan PERSIB
bermaterikan pemain-pemain veteran dan lokal
yang tak terlalu mentereng namanya. Luar biasa
animo bobotoh dalam laga ini, saya ingat betul
saat itu sulit sekali untuk mendapatkan tiket
tribun timur, dulu Viking masih menguasai
tribun selatan, dan elemen-elemen bobotoh
yang menjadi cikal bakal BOMBER masih
tersebar seperti stone lovers, suporter forever,
BFT, Provost PERSIB, Vorib, robokop, Casper,
tiger fortune dll.
Disaat itu puluhan ribu bobotoh masih tertahan
diluar tak dapat masuk stadion, sementara suasana di dalam stadion pun semakin tak
nyaman karena penonton berdesakan. Disaat
itulah tiba-tiba banyak bus mendekat ke area
stadion, mereka adalah bus-bus yang membawa
Jakmania, kalau tidak salah ada sekitar 7 bus,
cukup banyak memang karena gratisan dan disupport dana oleh sutiyoso. Terbayang apa
yang terjadi, disaat “penduduk asli” yaitu suporter tuan rumah pun emosi karena tidak
dapat masuk stadion, tiba-tiba datanglah “tamu
tak diundang” dari ibukota, dengan gaya yang
mungkin dianggap kurang berkenan maka terjadilah gesekan itu, saya kurang tau persisnya
namun beberapa bus memutar ke arah jalan
menado dengan kaca-kaca pecah dan terdengar
kata-kata makian.
Alkisah PERSIB kalah hari itu, kericuhan terjadi di
dalam dan di luar stadion, saya ingat benar saat
itu Luciano Leandro kepalanya bocor terkena
lemparan batu, dan musim itu adalah musim
dimana jerseynya sangat saya suka yaitu apparel
reebok, cukup elegan dan simpel, harga
originalnya di toko olahraga berkelas di BiP
sekitar Rp. 79.000,00 , harga yang terbilang
cukup mahal pada saat itu (cik mun ayeuna aya
keneh jersey eta harga sakitu diborong tah ku
aing!- teu make anj!#*).
Gesekan berlanjut
Di masa itu PERSIB memang kurang bersinar,
nama besar dan loyalitas bobotoh-nya lah yang
membuat PERSIB tetap disegani, dan diantara
keredupannya itu, tetap ada satu nama yang
mampu menjada track PERSIB sebagai
penyuplai pemain untuk tim nasional setelah
berakhirnya era Robi Darwis, satu-satunya
pemain PERSIB yang tetap dipanggil oleh tim
nasional itu adalah pemilik VO2MAX tertinggi di
timnas pada saat itu, salah satu pemain favorit
penulis, dia adalah Yaris Riyadi.
Dengan adanya satu wakil PERSIB di timnas
maka sudah menjadi alasan yang cukup kuat
bagi bobotoh untuk tetap setia memberi
dukungan kepada tim merah putih, terutama
saat berlaga di GBK, dan diantara mereka yang
rajin nonton timnas adalah anak-anak Viking
Jabodetabek (sekarang kan memekarkan diri
menjadi vkg bekasi, bogor dsb), nah konon katanya, euceuk, ceunah, meureun, sejak kejadian bentrok di Bandung itu, anak-anak
Jakmania mulai melakukan intimidasi dan
gangguan-gangguan serius kepada anak-anak
Viking jabodetabek ataupun para penonton asal
Bandung, alkisah makin lama makin hot dan dibalas pula dalam setiap kesempatan meskipun
itu diluar laga PERSIB vs Persija. Salah satu yang saya ingat adalah gangguan yang ditujukan pada
Jakmania ketika Persija bertandang ke kandang persikab di stadion sangkuriang cimahi, rupanya
acara ganggu-mengganggu ini cukup banyak juga peminatnya. Namun tidak dapat dipungkiri
bahwa peletup dan momentum yang membuat pertikaian ini semakin membara dan sulit
padam adalah kejadian setelah kuis siapa berani
di Indosiar. Saat itu anak-anak Viking yang
tampil sebagai jauara kuis rupanya telah diincar
dan siap dihabisi sejak mulai studio hingga jalan
tol, insiden terhebat adalah di pintu tol tomang,
anak-anak Viking di hajar habis-habisan dan ya
begitulah tak perlu diceritakan secara detail.
Bentrokan terhebat yang terjadi pasca insiden
kuis siapa berani terjadi sekitar tahun 2001. Saat
itu PERSIB dijamu Persija di GBK Jakarta,
kebetulan saat itu isu-nya masih terbatas Viking
dan Jakmania, belum bobotoh ataupun suporter
PERSIB secara keseluruhan. Saya masih ingat
saat itu anak-anak Viking berangkat
menggunakan banyak bus, sedangkan Bobotoh
lain berangkat menggunakan banyak mobil
pribadi,termasuk saya yang memilih
menggunakan minibus bersama kawan-kawan.
Jika tak salah dulu kami masih menggunakan
jalan via Puncak belum Cipularang, semua masih
tertawa-tawa hingga kami memasuki tol dalam
kota Jakarta. Disamping kami di jalan reguler
melaju sejajar sebuah metromini sarat Jakmania
yang terus menunjuk-nunjuk kami dan
meneriaki mobil kami, saat itu atmosfer
permusuhan belum separah sekarang sehingga
ya berani-berani saja tetap kibar bendera biru
dan memakai baju PERSIB, karena yang punya
masalah kan Viking dan Jakmania, sedangkan
kami yang tidak bergabung dengan rombongan
seharusnya aman, itu cara pikir bobotoh
kebanyakan. Karena beberapa mobil plat D
didepan pun tak melepas bendera PERSIB
mereka, dan rupanya itu adalah ide buruk…
sangat-sangat buruk. Lepas dari tol, mobil kami beserta 2 mobil lainnya dikejar oleh ratusan Jakmania. Segeralah gas ditancap dengan
maksud melarikan diri, namun tak diduga macet
luar biasa di depan TVRI, mobil kami terhenti
dan segeralah Jakmania mengerubungi mobil
kami, bunyi keras sekali entah apa yang mereka
gunakan untuk menghajar bodi mobil dan kaca,
pendek cerita, kaca mulai pecah dan rontok,
kawan-kawan yang duduk paling dekat dengan
jendela pun terkena pukulan langsung. Saya
masih ingat andai TUHAN tak segera menolong
kami saat itu mungkin kami akan menjadi
bulan-bulanan paling parah ya mati dan saya tak mungkin menulis tulisan ini. Pertolongan
TUHAN itu adalah ketenangan luar biasa dari sang sopir, meski darah mengalir dari kepalanya
dia tetap dapat melihat jalan kecil sisa galian
kabel di tepi jalan dan segera melewati jalan itu,
terlewatilah masa-masa yang tak akan pernah
kami lupakan itu.
Kami dipandu oleh salah seorang Viking
jabotabek bernama Agus Rahmat dan segera
mengamankan diri ke area lapangan hoki,
sementara yang lain mencoba menghentikan
pendarahan dan melakukan pertolongan
pertama. Sementara itu menurut kabar anak-
anak Viking pun terlibat bentrokan hebat dan tak
dapat masuk stadion, bentrokan terjadi di luar
dan dalam stadion karena beberapa kawan yang
bisa masuk stadion (konon mereka ini adalah
anak-anak jabodetabek) berada dalam
jangkauan Jakmania sehingga polisi
menembakkan gas air mata untuk menghalau
the jak, imbasnya sampai ke lapangan, konon
Aceng Juanda cs pun bergelimpangan di
lapangan hijau akibat gas airmata ini, PERSIB
kalah 0-3 dan bagi sebagian orang yang menjadi
korban insiden pada hari itu, mereka telah menemukan alasan untuk menyatakan perang
seumur hidup kepada Jakmania, slogan-slogan
permusuhan pun mulai marak dan menjadi
komoditas ekonomi untuk dicetak pada kaos-
kaos suporter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar