Catching Fire

Jumat, 19 April 2013

Irit Bukan Berarti Pelit

Irit Bukan Berarti Pelit.
 
image from google
Pernah mendengar selorohan orang mengenai istilah pelit...? coba bandingkan dengan orang yang bertindak irit atau hemat..? mungkin bedanya tipis sekali bahkan bisa dikatakan tidak ada bedanya antara irit dengan pelit,nah disini saya mencoba membuka kembali wawasan kita mengenai irit yang bukan berarti pelit,atau irit memang pelit.
Irit,hemat, merupakan beberapa kata yang sering dipergunakan untuk mengistilahkan suatu tindakan yang tidak menghambur hamburkan sesuatu benda,dalam hal ini bisa saja berbentuk uang,tenanga,maupun material lainya.
Pada beberapa kasus seseorang yang cenderung irit tetapi di bilang pelit,misalnya hanya demi membeli motor dengan cara kredit tetapi seseorang tersebut memilih memangkas biaya untuk makan,sehari hari yang biasanya kita masih ada dana untuk mengkonsumsi ikan,daging,telor dsb, hanya gara gara keinginan membeli motor tersebutlah berganti dengan hanya mie instan setiap waktu,kerupuk lagi dsb,bukan berarti saya menyepelekan orang orang yang ” hanya ” sanggup membeli itu untuk di konsumsi,tetapi apakah kita harus mengorbankan kesehatan demi kebutuhan sekunder kita..?

Bila kita lihat dan cermati contoh diatas tentu masih ada nilai positifnya,misalnya kita terbiasa untuk tidak boros,kita jadi mengerti dan memahami bahwa kehidupan ini keras dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit,untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi tujuan kita,mesti rela terlebih dahulu mengorbankan kebutuhan yang lain,inilah kunci menilai apakah irit / hemat kita termasuk kategori pelit, atau sebaliknya.
Beberapa teori alasan yang ada dibenak saya tentang irit tetapi termasuk kategori pelit,atau irit yang memang benar benar irit dan tidak termasuk kategori pelit :
  • Kebutuhan pokok ( primer ).
  • Kebutuhan kedua ( sekunder ).
  • Kebutuhan tambahan ( tersier ).
  • Kebutuhan penting,mendesak dan jangka waktu yang lama.
  • Kebutuhan sementara,hiburan,dsb.
Perumusan atau konfigurasinya adalah setiap yang pokok harus di dahulukan terlebih dahulu,setelah yang pokok safe ( aman ) barulah berpikir untuk kebutuhan yang lain,kebutuhan pokok atau utama akan bisa berganti menjadi kebutuhan sekunder atau malah tersier ketika kebutuhan pokok tersebut sudah dalam titik aman alias sudah disiapkan.
Kebutuhan primer akan menjadi sekunder ketika kebutuhan sekunder justru menjadi hal yang penting,mendesak,dan memiliki jangka waktu yang lama pemakaianya,begitu juga kebutuhan sekunder akan menjadi tersier akan menjadi pokok ketika kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder telah teratasi atau terpenuhi.
Nah bagaimana dengan yang sering terjadi dengan rekan rekan semua apakah lebih mementingkan sesuatu yang padahal masih banyak yang lebih penting dan mendesak...? atau memang sudah bisa memilah dan memilih dengan mengutamakan hal hal pokok baru kemudian berpikir untuk memenuhi kebutuhan yang lain,dengan kata lain sudahkah kita mengetahui dan menyadari irit dan hemat kita termasuk kategori pelit atau irit dan hemat kita tidak termasuk kategori pelit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar